Alkitab terbuka di atas meja kayu dengan buku catatan dan cahaya pagi, suasana tenang untuk lectio divina

7 Cara Membaca Alkitab dengan Metode Lectio Divina

Cara membaca Alkitab dengan metode lectio divina berjalan dalam tahapan: membaca, merenungkan, berdoa, dan berdiam. Tujuannya bukan menyelesaikan berapa pasal hari ini, tetapi membiarkan satu bagian firman bekerja lebih dalam sebelum Anda melangkah ke bagian lain.

Metode ini berasal dari tradisi biara dan sudah dipakai berabad-abad, sehingga bentuknya cukup lentur untuk dipakai seorang diri maupun bersama kelompok kecil. Tujuh langkah berikut bisa Anda ikuti berurutan dalam sekali duduk, sekitar 20 sampai 30 menit.

1. Pilih satu bagian pendek, bukan satu pasal penuh

Panjang bacaan menentukan hasilnya. Kalau Anda mengambil satu pasal penuh, perhatian akan terpecah dan tidak ada ayat yang benar-benar melekat. Ambil empat sampai delapan ayat saja, atau bahkan satu perikop pendek seperti perumpamaan atau satu rangkaian ajaran.

Untuk permulaan, pilih bagian yang tidak menuntut latar belakang sejarah rumit, misalnya Mazmur, Injil, atau surat-surat pendek. Tandai batas awal dan akhir bacaan sebelum mulai, supaya Anda tidak tergoda melanjutkan saat waktunya berdiam.

2. Siapkan tubuh dan ruang sebelum membaca

Lectio divina bukan sekadar aktivitas mental. Duduk dengan punggung tegak, letakkan ponsel di luar jangkauan, dan tarik napas beberapa kali sampai detak jantung tenang. Kalau Anda mudah mengantuk, duduk di kursi, bukan berbaring.

Doa pembuka cukup satu kalimat: minta Tuhan berbicara lewat bacaan hari itu. Tidak perlu rumusan panjang, sebab yang penting bukan panjangnya doa, tetapi kesediaan mendengar.

3. Tahap lectio: baca perlahan dan catat kata yang menarik perhatian

Baca bagian yang sudah Anda pilih dengan suara pelan atau dalam hati, dengan tempo jauh lebih lambat dari bacaan biasa. Setelah selesai, baca ulang sekali lagi. Pada bacaan kedua, perhatikan kata atau frasa yang tiba-tiba terasa menonjol.

Tulis kata itu di catatan. Satu kata sudah cukup. Jangan buru-buru menafsirkan; tugas tahap ini hanya menandai apa yang menarik perhatian Anda hari itu. Kata yang menonjol bisa berbeda dari hari ke hari meski bacaannya sama, dan itu wajar.

4. Tahap meditatio: duduki kata itu dan ajukan pertanyaan

Sekarang ambil kata atau frasa yang Anda tandai dan tinggali sebentar. Ajukan pertanyaan sederhana: apa yang bagian ini katakan tentang Tuhan, dan apa yang dikatakannya tentang manusia? Jangan mencari jawaban teologis lengkap; cari satu pengertian yang cukup untuk hari ini.

Kalau muncul pertanyaan yang sulit dijawab, catat saja dan lanjutkan. Metode ini bukan kelas tafsir. Kalau Anda ingin menggabungkan kebiasaan mencatat dengan pola yang lebih teratur, lihat panduan langkah menulis renungan pribadi yang konsisten agar hasil perenungan tidak hilang begitu saja.

Membaca memberi tahu apa yang tertulis; merenungkan menanyakan apa artinya bagi saya hari ini.

5. Tahap oratio: ubah perenungan menjadi doa

Setelah ada pengertian, bicaralah kepada Tuhan memakai kata-kata sendiri. Bisa berupa permohonan, pengakuan, syukur, atau keluhan yang jujur. Doa di tahap ini tumbuh dari bacaan, bukan dari daftar permintaan yang tidak berhubungan dengan apa yang baru Anda baca.

Kalau kata yang menonjol tadi tentang belas kasihan, doakanlah area hidup yang sedang Anda rasa kering. Kalau tentang pertobatan, sebutkan hal konkret yang perlu Anda ubah. Doa yang lahir dari bacaan biasanya terasa lebih spesifik dan tidak berputar-putar.

6. Tahap contemplatio: tinggalkan kata-kata dan diam

Tahap ini paling sering dilewati karena terasa tidak produktif. Diam di hadapan Tuhan selama dua sampai lima menit tanpa membaca dan tanpa berdoa. Kalau pikiran melayang ke urusan pekerjaan, kembalikan perlahan ke kata yang tadi Anda pegang.

Untuk pemula, diam terasa canggung. Mulai dari satu menit, lalu tambah bertahap. Kalau Anda belum terbiasa dengan keheningan panjang, Anda bisa memakai pola ringan dari cara memulai renungan harian untuk pemula dan memperpanjang waktu diam perlahan-lahan.

7. Tutup dengan satu tindakan nyata dan catat

Sebelum menutup waktu, putuskan satu hal yang akan Anda lakukan. Bukan janji besar, cukup satu langkah yang bisa dievaluasi besok. Contohnya menghubungi seseorang yang sedang Anda hindari, menahan diri dari kebiasaan tertentu selama sehari, atau menuliskan ucapan syukur kepada orang yang pernah menolong Anda.

Catat bacaan hari itu, kata yang menonjol, dan tindakan yang Anda pilih dalam satu baris singkat. Catatan sederhana ini berguna saat Anda ingin menengok kembali bagaimana Tuhan menuntun Anda selama beberapa minggu.

Cara memakai tujuh langkah ini saat waktunya terbatas

Kalau hanya punya sepuluh menit, gabungkan tahapannya. Baca dua kali, duduki satu kata, doakan, lalu diam satu menit. Yang penting bukan lengkapnya tahapan, tetapi Anda benar-benar berhenti, bukan berlari.

Kalau dilakukan bersama kelompok, bagi tugas. Satu orang membaca bagian, satu orang menyebut kata yang menonjol, lalu kelompok berdoa bergantian. Batasi setiap orang bicara dua sampai tiga kalimat supaya keheningan tidak hilang oleh diskusi panjang.

  • Sepuluh menit: baca, renungkan satu kata, doa singkat, diam satu menit.
  • Dua puluh menit: semua tahap, diam tiga menit.
  • Tiga puluh menit: semua tahap, tambahkan waktu mencatat dan menetapkan tindakan.

Kesalahan yang membuat lectio divina terasa kering

Terlalu banyak ayat dalam satu sesi, mengganti bacaan setiap hari, dan melompat ke tafsir sebelum membaca perlahan termasuk penyebab paling umum. Kesalahan lain adalah mengejar pengalaman emosional. Lectio divina tetap berjalan saat hati terasa tawar; yang penting Anda hadir.

Kalau satu bacaan terasa keras, jangan buru-buru pindah. Kadang bagian yang paling membuat tidak nyaman justru yang perlu diduduki paling lama. Bila pertanyaan yang muncul menyangkut ajaran iman yang lebih dalam atau persoalan pribadi yang berat, bicarakan dengan pendeta atau pembimbing rohani yang Anda percaya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah lectio divina harus dilakukan setiap hari?

Tidak ada aturan jumlah. Beberapa orang melakukannya setiap hari, sebagian lagi dua sampai tiga kali seminggu. Yang lebih menentukan adalah keteraturan, bukan frekuensi. Dua kali seminggu yang dijalani bertahun-tahun memberi hasil lebih besar daripada tujuh hari berturut-turut lalu berhenti.

Bolehkah memakai terjemahan Alkitab modern?

Boleh. Pakai terjemahan yang paling mudah Anda pahami karena tahap pertama menuntut Anda membaca perlahan, bukan menerjemahkan. Menyandingkan dua terjemahan pada bagian yang sama juga membantu ketika satu kata terasa janggal.

Apa yang dilakukan kalau tidak ada yang terasa menonjol?

Pilih saja satu kata yang paling sering muncul atau paling membuat Anda penasaran, lalu jadikan itu bahan renungan. Rasa kering bukan tanda Anda gagal. Diam beberapa menit tanpa hasil yang jelas tetap bagian dari latihan mendengar, dan hasilnya sering baru terlihat beberapa hari kemudian.

More From Author

Buku catatan terbuka dan Alkitab di atas meja kayu untuk menulis renungan pribadi

7 Langkah Menulis Renungan Pribadi yang Konsisten